Minggu, 30 Oktober 2011

PENGOLAHAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH SECARA KOMPOSTING AEROBIK DALAM UPAYA PENANGGULANGAN SAMPAH ORGANIK DI BANTARAN SUNGAI CODE AKIBAT LAHAR DINGIN ERUPSI MERAPI YOGYAKARTA




BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api yang paling aktif di dunia. Setidaknya dari 61 laporan erupsi sejak pertengahan abad 15 sampai sekarang ini, ada 23 kali erupsi yang memuntahkan lahar di lerengnya. Deposit lahar tersebut menempati areal 286 km2 di sekeliling puncak Merapi. Munculnya lahar dingin dipicu oleh curah hujan jika memiliki intensitas > 40 mm dalam waktu 2 jam. Hal ini terjadi pada musim penghujan atau bulan November-April. Lahar dingin yang terjadi pada ketinggian tempat 1.000 m dpl dapat meluncur dengan kecepatan 5-7 m/detik. Lereng Merapi memiliki curah hujan yang tinggi, catatan tahun 1976-1990 menunjukkan rerata curah hujan tahunan di Plawangan (lereng selatan, 1.275 m dpl) sebesar 3.253 mm/th, sedangkan di Babadan (lereng barat, 1.278 m dpl) sebesar 2.416 mm/th (Lavigne et al., 2000).
Seperti yang kita ketahui bencana merpakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis. Contoh bencana alam antara lain antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah langsor. Sedangkan bencana non alam contohnya adalah konflik social, epidemi dan wabah penyakit.
Letusan gunung merapi bukan hanya saja berdampak pada daerah sekitar gunung merapi tetapi juga berdampak pada kota jogjakarta juga. Khususnya daerah bantaran sungai code.
Dampak yang terjadi adalah terdamparnya sampah-sampah yang di bawah arus lahar dingin letusan gunung merapi.  Sampah- sampah yang terbawaa arus lahar dingin letusan merapi di bantaran sungai code sangat berdampak buruk pada masyarakat dan lingkungan.olehb karena itu di perlukan tindakan pengelolaan sampah secara terpadu dengan cara komposting untuk sampah organik.



2.      Tujuan  & Manfaat
Adapula tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
a.      Untuk mengetahui  permasalahan dampak dan pengolahan sampah akibat lahar dingin pasca erupsi merapi di bantaran sungai code yogyakarta.
b.      Untuk mengetahui pengelohan dan pengelolaan sampah dengan cara komposting.
c.       Untuk memenuhi tugas mata kuliah sanitasi kota.






















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.      Sampah
Pada prinsipnya pengertian sampah adalah bahan buangan berbentuk padat,yang masuk atau dimasukan kedalam lingkungan, sehingga dapat mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan. (Eddi&Tanudi,1997)
Adapun pengertian sampah menurut Sudarso (1995), sampah adalah bahan buangan sebagai akibat dari aktivitas manusia dan binatang yang merupakan bahan yang sudah tidak berguna lagi, sehingga dibuang sebagai bahan yang tidak berguna. Namun demikian pengertian sampah menurut konsep paradigma baru dikatakan bahwa sampah dapat digolongkan sebagai sumber daya dan sumber energi.
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume serta jenis sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang digunakan sehari-hari.
Berdasarkan kamus istilah lingkungan (1994), "Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan".
"Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis." (Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink, 1996).
"Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula". (Dr. Tandjung, M.Sc., 1982)
Berangkat dari pandangan tersebut sehingga sampah dapat dirumuskan sebagai bahan sisa dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Sampah yang harus dikelola tersebut meliputi sampah yang dihasilkan dari:
1)        rumah tangga;
2)        kegiatan komersial: pusat perdagangan, pasar, pertokoan, hotel, restoran, tempat hiburan;
3)        fasilitas sosial: rumah ibadah, asrama, rumah tahanan/penjara, rumah sakit, klinik, puskesmas;
4)        fasilitas umum: terminal, pelabuhan, bandara, halte kendaraan umum, taman, jalan,dan trotoar;
5)        industri;
6)        fasilitas lainnya: perkantoran, sekolah,dll
7)        hasil pembersihan saluran terbuka umum, seperti sungai, danau, pantai.

2.      Klasifikasi Sampah
Klasifikasi sampah menurut istilah teknis
1.             Sampah organik mudah busuk (garbage) yaitu sampah semi basah berupa bahan-bahan organik yang umumnya berasal dari sektor pertanian dan makanan, misalnya sisa dapur, sisa makanan, sampah sayuran dan kulit buah-buahan.
2.             Sampah organik dapat membusuk (rubbish), yaitu limbah padat organik cukup kering yang sulit terurai oleh mikroorganisme, sehingga sulit membusuk. Contoh sampah ini adalah kertas, plastik, dan kaca.
3.             Sampah abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu-abuan misalnya abu hasil pembakaran.
4.             Sampah bangkai binatang (dead animal), yaitu semua limbah yang berupa bangkai binatang, seperti tikus,ikan, anjing, dan binatang ternak yang menjadi bangkai.
5.             Sampah sapuan (street sweeping), yaitu limbah padat sapuanjalan yang berisi berbagai sampah yang tersebar di jalanan, seperti dedaunan, plastik, dan kertas.
6.             Sampah industri (industry waste), yaitu semua limbah yang berasal dari buangan industry. Limbah ini sangat tergantung dari jenis industrinya. Sama dengan apabila semakin banyak industri yang berdiri maka sampah yang dihasilkan akan semakin besar dan beragam limbahnya.(Gambira & Murtadho, 1987)
         Klasifikasi sampah menurut sumbernya.
1.        Sampah domestik (Domestic Sewage), yaitu limbah padat yang berasal dari pemukiman masyarakat, jenis sampah ini cukup beragam akan tetapi umumnya berupa sampah dapur, kaleng atau kertas pembungkus, kulit buah–buahan, dedaunan dan sejenisnya.
2.        Sampah komersial (Comercial Waste), yaitu limbah yang berasal dari lingkungan perdagangan atau jasa komersial , baik warung, toko, ataupun pasar.
3.        Sampah Industri (Industri Waste), yaitu sampah yang berasal dari buangan hasil proses industri. Sampah ini untuk jenis tertentu akan relative sama, akan tetapi untuk jenis yang berbeda akan membuang sampah yang berbeda juga pada jenis jumlah dan komposisi sampah tergantung jenis industrinya.
4.        Sampah yang berasal dari selain yang disebutkan diatas, misalnya limbah hasil bencana alam, limbah dari pepohonan dan sebagainya.(Gambira & Murtadho, 1987)

Berdasarkan jenis sampah pada prinsipnya di bagi atas 3 bagian besar , yaitu :
a.      Sampah padat.
b.      Sampah cair
c.       Sampah dalam bentuk gas
 Sampah pada umumnya di bagi atas 2 jenis, yaitu :
A.      Sampah organik
Sampah yang mengandung senyawa-senyawa organik, Karena itu tersusun dari unsur-unsur seperti  C , H , O, N ,dll, ( umumnya sampah organik dapat terurai secara alami oleh mikroorganisme )
B.       Sampah anorganik
Sampah yang bahan kandungan non organik sampah ini sangat sulit terurai oleh mikroorganismne . ( hadiwiyoto, 1983 ).

3.      Pengolahan sampah dengan cara komposting

A.     Kompos
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford, 2003).
B.      Pengomposan
pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan.
C.      Pengomposan Aerobik
Pengomposan Aerobik adalah dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik.














BAB III
PEMBAHASAN

1.      Bahan – bahan yang dapat di komposkan
Pada dasarnya arus lahar dingin letusan gunung merapi banyak membawa sampah – sampah organik dan anorganik. Pada pengolahan kompos bahan yang di gunakan adalah bahan organik seperti daun-daun, ranting-ranting pohon, dll.
2.      Peralatan  dalam pengomposan secara aerobik
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengomposan secara aerobik terdiri dari peralatan untuk penanganan bahan dan peralatan perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi pekerja. Berikut disajikan peralatan yang digunakan.
  1. Terowongan udara (Saluran Udara)
    • Digunakan sebagai dasar tumpukan dan saluran udara
    • Terbuat dari bambu dan rangka penguat dari kayu
    • Dimensi : panjang 2m, lebar ¼ – ½ m, tinggi ½ m
    • Sudut : 45o
    • Dapat dipakai menahan bahan 2 – 3 ton
  2. Sekop
    • Alat bantu dalam pengayakan dan tugas-tugas lainnya
  3. Garpu/cangkrang
    • Digunakan untuk membantu proses pembalikan tumpukan bahan dan pemilahan sampah
  4. Saringan/ayakan
    • Digunakan untuk mengayak kompos yang sudah matang agar diperoleh ukuran yang sesuai
    • Ukuran lubang saringan disesuaikan dengan ukuran kompos yang diinginkan
    • Saringan bisa berbentuk papan saring yang dimiringkan atau saringan putar
  5. Termometer
    • Digunakan untuk mengukur suhu tumpukan
    • Pada bagian ujungnya dipasang tali untuk mengulur termometer ke bagian dalam tumpukan dan menariknya kembali dengan cepat
    • Sebaiknya digunakan termometer alkohol (bukan air raksa) agar tidak mencemari kompos jika termometer pecah
  6. Timbangan
    • Digunakan untuk mengukur kompos yang akan dikemas sesuai berat yang diinginkan
    • Jenis timbangan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penimbangan dan pengemasan
  7. Sepatu boot
    • Digunakan oleh pekerja untuk melindungi kaki selama bekerja agar terhindar dari bahan-bahan berbahaya
  8. Sarung tangan
    • Digunakan oleh pekerja untuk melindungi tangan selama melakukan pemilahan bahan dan untuk kegiatan lain yang memerlukan perlindungan tangan
  9. Masker
    • Digunakan oleh pekerja untuk melindungi pernafasan dari debu dan gas bahan terbang lainnya

Kompos Bahan Organik dan Kotoran Hewan

Pengomposan dapat juga menggunakan alat mesin yang berfungsi dalam memberi asupan oksigen serta membalik bahan secara praktis. Komposter Rotary Klin berkapasitas 1 ton bahan sampah mengelola proses membalik bahan dan mengontrol aerasi dengan cara mengayuh pedal serta memutar aerator ( exhaust fan). Penggunaan komposter BioPhoskko disertai aktivator kompos yang tepat akan meningkatkan kerja penguraian bahan (dekomposisi) oleh jasad renik menjadi 5 sampai 7 hari saja.
3.      Tahapan Pengomposan secara aerobik
1.      Pemilahan Sampah
a.      Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Pemilahan harus dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses dan mutu kompos yang dihasilkan
2.      Pengecil Ukuran
a.      Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah, sehingga sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi menjadi kompos
3.      Penyusunan Tumpukan
a.      Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan.
b.      Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1,75m.
c.       Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow) yang berfungsi mengalirkan udara di dalam tumpukan.
4.      Pembalikan
a.      Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan, memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.

5.      Penyiraman
a.      Pembalikan dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang terlalu kering (kelembaban kurang dari 50%).
b.      Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan.
c.       Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air, maka tumpukan sampah harus ditambahkan air. sedangkan jika sebelum diperas sudah keluar air, maka tumpukan terlalu basah oleh karena itu perlu dilakukan pembalikan.

6.      Pematangan
a.      Setelah pengomposan berjalan 30 – 40 hari, suhu tumpukan akan semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan.
b.      Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari.
7.      Penyaringan
a.      Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos sesuai dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal proses.
b.      Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan yang baru, sedangkan bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu.
8.      Pengemasan dan Penyimpanan
a.      Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan kebutuhan pemasaran.
b.      Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman dan terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari oleh bibit jamur dan benih gulma dan benih lain yang tidak diinginkan yang mungkin terbawa oleh angin.
4.      Kontrol proses produksi kompos
1.      Proses pengomposan membutuhkan pengendalian agar memperoleh hasil yang baik.
2.      Kondisi ideal bagi proses pengomposan berupa keadaan lingkungan atau habitat dimana jasad renik (mikroorganisme) dapat hidup dan berkembang biak dengan optimal.
3.      Jasad renik membutuhkan air, udara (O2), dan makanan berupa bahan organik dari sampah untuk menghasilkan energi dan tumbuh.
5.      Mutu  Kompos
1.      Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi pertumbuhan tanaman.
2.      Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
3.      Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
a.      Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
b.      Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk suspensi,
c.       Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat humifikasinya,
d.      Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
e.      Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
f.        Tidak berbau.








BAB IV
PENUTUP
1.      Kesimpulan dan saran
Pengagulangan sampah yang terbawa arus lahar dingin dari dampak letusan merapi haruslah di tinjau dan di kelola secara baik. Agar sampah- sampah tersebut tidak mengakibatkan dampak negatif pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Seperti pembahasan di atas sampah organik yang terbawa lahar dingin isa di jadikan kompos dengan proses komposting yang sederhana yaitu secara aerobik. Pengelolaan dan pengolahan sampah secara komposting dampat mengurangi dampak-dampak negativ terhadap lingkungan di sekitar bantaran sungai code.  Adanya kesadaran masyarakat yang lebih tinggi untuk mengelolah sampah yang di bantaran sungai code sangatlah menguntungkan untuk lingkungan kesehatan dan estetika di bantaran sungai code tersebut.



















DAFTAR PUSTAKA

Karmisa, Isa. Cs., 1990, Kualitas Lingkungan di Indonesia. Jakarta: LP3ES
Anonim, 1988. Persampahan “Training Pengelolaan Penyehatan Lingkungan Pemukiman”. Depertemen P.U. Direktorat Jendral Cipta Karya Direktorat Penyehatan Lingkungan Pemukiman : Jakarta.